salju

Rabu, 19 Desember 2012

KURIKULUM MATEMATIKA DI JEPANG



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Pendidikan di lembaga sekolah tidak bisa berjalan jika hanya ada siswa, guru, bangunan dan fasilitas sekolah. Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik jika materi belajar telah disepakati. Materi belajar tersebut tidak hanya berupa rangkaian kalimat yang menerangkan cakupan konten pembelajaran, tetapi juga memuat berapa lama harus diajarkan, tujuan pengajaran, dan bagaimana mengajarkannya. Inilah yang sering disebut sebagai kurikulum. Tetapi kurikulum tidaklah sesederhana itu.          
            Pada sistem pendidikan tradisional, kurikulum disusun oleh lembaga pendidikan bersangkutan, namun dengan dijadikannya pendidikan sebagai bagian yang harus dikelola oleh negara, dan lembaga sekolah mulai diformalkan, maka otomatis penyusunan kurikulum pun menjadi tanggung-jawab pemerintah.Pembuatan kurikulum oleh pemerintah memungkinkan keseragaman lembaga pendidikan di seluruh negeri.Tetapi apa yang disusun oleh pemerintah hanyalah sebuah standar atau pembakuan yang selanjutnya merupakan acuan/pedoman dalam penyusunan kurikulum khas sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan aparatnya.
            Jepang sekalipun telah menstandarkan semua fasilitas pendidikannya dan sekaligus telah menerapkan standar kualifikasi minimal untuk para gurunya, sehingga pelaksanaan kurikulum di setiap lembaga sekolah boleh dikatakan seragam, tetap saja tidak bisa menjamin hasil pendidikan dengan mutu seragam. Pembaharuan kurikulum adalah hal yang mutlak terjadi, sebab pendidikan juga berjalan mengikuti zaman dan perubahan. Sama halnya dengan Indonesia kurikulum pun telah mengalami perubahan beberapa kali di Jepang. Perubahan tersebut mau tidak mau membawa dampak perubahan permintaan kualifikasi dan kompetensi pendidik di Jepang.
            Ada tiga tugas utama guru/pendidik di Jepang yaitu gakushū shidōu (membimbing pembelajaran), seito shidō (membimbing siswa), dan kōmubunshō (tugas administrasi/managerial sekolah). Agar pengejewantahan ketiga tugas/fungsi guru tersebut dapat berjalan dengan baik, maka perlu disusun perencanaan. Perencanaan itulah yang disebut kyouiku katei (rencana kurikulum) di Jepang.
            Kurikulum pendidikan pasti memiliki tujuan begitu juga dengan kurikulum pendidikan matematika di Jepang. Tujuan kurikuler dari negara tersebut dalam pendidikan matematika dasar hampir sama. Jepang berusaha untuk memberikan para siswa dengan berbagai dan beragam pengalaman yang akan meningkatkan kemampuan mereka  untuk berpikir secara logis dan kreatif menggunakan masalah matematika yang didasarkan pada situasi kehidupan nyata.
                  Pembelajaran matematika di Jepang lebih banyak menggunakan pendekatan open ended dan pemecahan masalah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).

1.2. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam tulisan ini adalah:
1.      Bagaimana kurikulum pendidikan di Jepang ?
2.      Bagaimana perkembangan kurikulum pendidikan matematika di Jepang?
3.      Bagaimana pembelajaran matematika di Jepang ?

1.3. Tujuan Masalah
            Yang menjadi tujuan dari tulisan ini adalah:
1.      Untuk mengetahui kurikulum pendidikan di Jepang.
2.       Untuk mengetahui perkembangan kurikulum pendidikan  matematika di Jepang.
3.      Untuk mengetahui pembelajaran matematika di Jepang

1.4. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu dapat menambah kajian  ilmiah  bagi pembaca dalam kajian perkembangan kurikulum dan pembelajaran matematika di Jepang serta secara khusus menambah bahan refrensi bagi mahasiswa yang ingin mempelajari arah dan isu kecenderungan pendidikan matematika.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kurikulum Pendidikan di Jepang
Tingkatan pendidikan di Jepang sama dengan di Indonesia yaitu dengan menggunakan sistem 6-3-3 (6 tahun SD, 3 tahun SMP, tiga tahun SMA) dan Perguruan Tinggi. Pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama digolongkan sebagai Compulsory Education dan Sekolah Menengah Atas digolongkan sebagai Educational Board.
Compulsory Education di Jepang dilaksanakan dengan prinsip memberikan akses penuh kepada semua anak untuk mengenyam pendidikan selama 9 tahun (SD dan SMP) dengan menggratiskan tuition fee, dan mewajibkan orang tua untuk menyekolahkan anak (ditetapkan dalam Fundamental Law of Education). Untuk memudahkan akses, maka di setiap distrik didirikan SD dan SMP walaupun daerah kampung dan siswanya minim (per kelas 10-11 siswa). Orang tua pun tidak boleh menyekolahkan anak ke distrik yang lain, jadi selama masa compulsory education, anak bersekolah di distrik masing-masing. Mutu sekolah negeri di semua distrik sama, sebab Ministry of Education menkondisikan equality di semua sekolah.Sedangkan untuk SMA, siswa dibebaskan untuk memilih sekolah di distrik lain.
Di Jepang Pendidikan dasar tidak mengenal ujian kenaikan kelas, tetapi siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir juga tidak ada, karena SD dan SMP masih termasuk kelompok compulsory education, sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP. Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar, artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board. Ujian masuk hampir serentak di seluruh Jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang, English, Math, Social Studies, dan Science. Sama halnya dengan Indonesia, SMA dibagi menjadi SMA umum dan SMK. Ujian masuk PT dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional soal ujian disusun oleh Ministry of education, terdiri dari lima subject, sama seperti ujian masuk SMA, selanjutnya siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing-masing universitas, tepatnya ujian masuk di setiap fakultas.
Panduan tentang muatan pembelajaran di sekolah Jepang termuat dalam gakusyuushidouyouryo (学習指導要領). Dokumen ini berisikan keterangan lengkap tentang tujuan pembelajaran di sekolah, materi pelajaran, pendidikan moral dan kegiatan khusus terkait dengan sekolah. Gakusyuushidouyouryou dapat dikatakan sebagai standar minimum yang harus dicapai oleh sekolah-sekolah negeri (国立学校), sekolah publik (公立学校), dan sekolah swasta (私立学校). Gakusyuushidouyouryou pertama kali dikeluarkan pada tahun 1947, bertepatan dengan lahirnya UU Pendidikan di Jepang.
Pembaharuan kurikulum di Jepang berlangsung setiap 10 tahun sekali, dan kurikulum terbaru yang diterbitkan di tahun 1998 adalah pembaharuan ketujuh sejak kurikulum yang diterapkan pada Perang Dunia II. Di Jepang kurikulum disusun oleh sebuah komite khusus dibawah kontrol Kementerian Pendidikan (MEXT). Komisi Kurikulum terdiri dari wakil dari Teacher Union, praktisi dan pakar pendidikan, wakil dari kalangan industri, dan wakil MEXT.
Jepang merupakan negara yang pendidikannya maju. Sistem pendidikan Jepang memberi kesempatan kepada siswa tamatan sekolah menengah atas untuk mendapat pendidikan lebih lanjut yang bermacam-macam. Selain itu masih banyak ciri-ciri pendidikan Jepang, diantaranya:
1. Perhatian pada pendidikan datang dari bermacam-macam pihak
2. Sekolah Jepang tidak Mahal
3. Di Jepang Tidak Ada Diskriminasi Terhadap Sekolah
4. Kurikulum sekolah Jepang sangat berat
5. Sekolah sebagai unit pendidikan
6. Guru terjamin tidak akan kehilangan jabatan
7. Guru jepang penuh dedikasi
8. Guru jepang merasa wajib memberi pendidikan “orang seutuhnya”
9. Guru Jepang bersikap adil.

2.2. Kurikulum Pendidikan Matematika di Jepang
            Pendidikan matematika di Jepang memiliki kurikulum. Tujuan kurikuler dalam pendidikan matematika yaitu untuk memberikan para siswa dengan berbagai dan beragam pengalaman yang akan meningkatkan kemampuan mereka  untuk berpikir secara logis dan kreatif. Waktu belajar mengajar matematika di Jepang lebih sedikit jika dibandingkan dengan di Indonesia. Buku pelajaran matematika di Jepang menggunakan gambar asli tempat, benda dan hal-hal lain yang memiliki relativitas dengan isi atau pelajaran yang disajikan dalam buku.
                   Kurikulum matematika di Jepang tidak sepadat yang ada di Indonesia. Kurikulum matematika dasar Jepang memiliki tujuan belajar lebih sedikit daripada Indonesia. Sehingga sebagian besar siswa Jepang memiliki cukup waktu untuk menyerap dan memahami setiap pelajaran. Mereka bahkan memiliki waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan karya tangan dan kegiatan menyenangkan lainnya tapi merangsang dalam belajar matematika. Siswa Jepang belajar untuk menikmati matematika dan memiliki kemampuan untuk menghubungkan pelajaran mereka dalam situasi kehidupan nyata.
                  Pada  kurikulum 1971 adalah kurikulum yang sangat sarat materi sementara sekolah-sekolah di Jepang belum memadai baik dari segi fasilitas maupun kemampuan guru-gurunya. Sehingga kurikulum tersebut terlalu memberatkan dan kurang berhasil. Oleh karena itu muncullah ide untuk memberikan pendidikan yang lebih mementingkan keleluasaan waktu dan ruang. Itulah yang disebut yutorikyouiku. Jumlah jam pelajaran SD per tahun berkurang sebanyak 36 jam, dan SMP sebanyak 385 jam.
            Indikator pemerintah untuk mengukur keberhasilan pendidikan di Jepang adalah pengukuran internasional yang diselenggarakan negara-negara OECD, yaitu PISA dan TIMMS, sebab Jepang tidak menerapkan sistem ujian nasional. Pada tahun 1995, prestasi siswa SD dan SMP Jepang menempati urutan pertama, namun tahun-tahun selanjutnya mengalami penurunan. Dalam rangka pelaksanaan yutorikyouiku, pemerintah juga menerapkan 5 hari sekolah, yaitu dari hari Senin sampai Jumat. Tujuan kebijakan ini adalah agar siswa dapat lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dan belajar lebih banyak di lingkungannya pada akhir pekan.
            Dengan hasil PISA yang mengecewakan, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk melaksanakan kembali gakuryoku tesuto (tes kemampuan akademik) tahun 2007, yang pernah dilaksanakan pada tahun 1960. Karakteristik kurikulum Jepang yang lainnya adalah ide ikiru chikara dan sōgōtekina gakushū jikan. Konsep ikiru chikara adalah konsep yang hendak membudayakan jiwa dan melatih kekuatan dan kemampuan untuk hidup di tengah masyarakat.
            Kerangka kurikulum Jepang untuk bidang matematika tidak ditargetkan untuk menguasai luasnya cakupan, tetapi justru menargetkan kedalaman proses pembelajarannya (Schmidt, McKnight, & Raizen, 1996, dlm Darling-Hammond, 1997). Untuk tahun pertama tingkat SMP (lower secondary school), kurikulum menargetkan empat sasaran dasar:
a. memperdalam pemahaman siswa mengenai integral
b. memahami arti persamaan (equations)
c. memahami fungsi hubungan (relationships)
d. memperdalam pemahaman siswa tentang ciri-ciri ruang (properties of space figures)
            Tujuan pembelajaran ini diterjemahkan ke dalam tiga topik utama yang diajarkan. Terkait dengan target ini, para guru disarankan untuk menekankan pemahaman akan arti atau makna dasarnya, dan tidak semata-mata untuk melatih hitung-hitungan belaka. Dengan demikian, penekanannya adalah dalam mengembangkan pemahaman daripada sekedar menerapkan rumus-rumus algoritma atau mengukur kecepatan dalam memecahkan soal atau topik.

2.2. Pembelajaran Matematika di Jepang
            Pengajaran matematika di Jepang relatif berbeda. Kelas dimulai dengan pengantar singkat, kemudian guru menyajikan satu soal yang cukup sulit dan tidak mengajarkan siswa cara memecahkan soal tersebut. Para siswa lalu mengerjakan sendiri soal tersebut, baik mandiri maupun berkelompok, sambil diawasi oleh guru yang berkeliling untuk melihat berkembangan dan memberikan saran-saran. Setelah sepuluh atau 15 menit, salah seorang siswa diminta untuk mempresentasikan apa yang diperolehnya di depan kelas, dengan masukan dari guru jika siswa tersebut mengalami hambatan. Matematika jepang memberikan kebebasan    pola pikir dalam menyelesaikan masalah kepada anak. Kesalahan yang terjadi pada anak dibiarkan dan dijadikan proses alamiah dalam menemukan pola pikir itu. Guru memberikan sebuah permasalahan untuk dipecahkan anak sesuai dengan pola pikirnya.
            Dalam sebuah kelas di Jepang, anak-anak bisa jadi menghabiskan seluruh waktu pembelajaran di kelas untuk mendemonstrasikan dan mendiskusikan beragam solusi yang mereka identifikasi terhadap suatu persoalan. Dengan melihat pada suatu persoalan dari berbagai perspektif, dan menilai proses berpikir dalam diri mereka sendiri, serta mengoreksi miskonsepsi yang telah mereka buat, mereka belajar berpikir secara lentur atau fleksibel. Bukannya belajar dengan semata-mata menerapkan serangkaian aturan yang tidak sepenuhnya mereka pahami, atau memecahkan sejumlah besar persoalan yang sama dengan rumus algoritma yang sama, para siswa belajar untuk sampai pada pemahaman akan beragam strategi untuk memecahkan persoalan. Tidak mengherankan bahwa akhirnya mereka pun mampu menerapkan apa yang telah mereka pelajari tersebut dalam situas-situasi baru yang mereka hadapi.
            Pembelajaran matematika, terutama di SD dan SMP di Jepang juga sangat menarik, guru-guru selalu menyiapkan bahan belajar yang sangat sederhana, misalnya kertas, gunting, jepitan pakaian, atau bahan lain yg gampang sekali ditemukan. Alat peraga digunakan untuk membantu membentuk pola pikir anak.
            Misalnya seorang guru di SD affiliation Tsukuba University mengajar anak kelas 5 SD bilangan berderet dengan bahan kertas dan gunting. Dengan prinsip `melipat dan menggunting` anak-anak belajar bilangan berderet secara menyenangkan.
            Yang menarik guru sama sekali tidak menggurui dengan memberitahukan jawabannya secara langsung, tetapi seakan-akan beliau tidak tahu, dan meminta siswa untuk menjelaskan. Melalui cara ini, saya dapat menangkap bahwa anak-anak Jepang sangat kaya ide. Pepatah `banyak jalan menuju Roma` berlaku di sini. Dan Pak Guru sama sekali tidak pernah mengatakan `salah`, yang dia ucapkan malah kalimat `naruhodo`, yang artinya `Oh, saya baru tahu ! Kalimat ini menurut saya membangkitkan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang anak. Suatu pujian yang bisa diartikan `kamu bisa, Nak !`
Ada 3 prinsip mengajar guru-guru di Jepang, yaitu
1. Tanoshii jugyou (kelas harus menyenangkan)
2. Wakaru ko (anak harus mengerti)
3. dekiru ko (anak harus bisa)
            Melalui model pembelajaran seperti itu, kita dapat melihat bagaimana anak-anak di Jepang diajari untuk menganalisa sebuah permasalahan, atau menemukan pemecahannya, tanpa dijejali dengan rumus itu rumus ini. Mereka baru diajari rumus /teori belakangan, setelah mereka paham asal-usul sebuah teori, dan bisa menggunakannya di kehidupan sehari-hari. Mereka juga tidak diajari banyak hal, sedikit saja yang penting mengerti.
                  Pendekatan pembelajaran matematika di Jepang yang diamanatkan oleh standar isi adalah pemecahan masalah. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Pembelajaran matematika di Jepang berdasarkan masalah kontekstual. Hal ini dapat terlihat dari buku pelajaran matematika di Jepang menggunakan gambar asli tempat, benda dan hal-hal lain yang memiliki relativitas dengan isi atau pelajaran yang disajikan dalam buku. Buku pelajarannya berwarna-warni dan memiliki banyak foto dan gambar.













BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum di Jepang memiliki      karakteristik pengembangan yang berusaha menyesuaikan kondisi dan pemikiran
2. Tujuan kurikuler dari negara Jepang dalam pendidikan matematika yaitu berusaha untuk       memberikan para siswa dengan berbagai dan beragam pengalaman yang akan meningkatkan      kemampuan mereka  untuk berpikir secara logis dan kreatif menggunakan masalah      matematika yang didasarkan pada situasi kehidupan nyata.
3. Matematika Jepang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mencoba      menyelesaikan masalah dengan pola pikir sendiri.
4. Inti pengajaran matematika di jepang adalah membentuk pola pikir para peserta didiknya.      Pendekatan yang sering dipakai adalah open ended,problem solving dan discovery.









DAFTAR PUSTAKA

Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT)
http://www.mext.go.jp/english/)

http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/30/momok-bernama-matematika/





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar