salju

Sabtu, 24 November 2012

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH



2.1. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah

            Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan pengetahuan baru. Seperti yang diungkapkan oleh Suyatno (2009 : 58) bahwa :
” Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru”.

Jadi pembelajaran ini menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintregasikan pengetahuan baru. Hal serupa juga dikemukakan oleh Nurhadi (2004 :109) :” Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah adalah suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran”. Dalam hal ini pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah.
            Sedangkan menurut Arends (dalam Trianto 2007 : 68) menyatakan bahwa:
Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan  pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri ”.

Dari pendapat-pendapat para ahli diambil kesimpulan pendekatan pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak (starting point) pembelajaran. Masalah-masalah yang dapat dijadikan sebagai sarana belajar adalah masalah yang memenuhi konteks dunia nyata (real world), yang akrab dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Melalui masalah-masalah kontekstual ini para siswa menemukan kembali pengetahuan konsep-konsep dan ide-ide yang esensial dari materi pelajaran dan membangunnya ke dalam stuktur kognitif.

Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah juga mengacu pada pendekatan pembelajaran yang lain seperti yang diungkapkan oleh diungkapkan oleh Trianto (2007 : 68) :” Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah) mengacu pada Pembelajaran Proyek (Project Based Learning), Pendidikan Berdasarkan Pengalaman (Experience Based Education),  Belajar Autentik (Autentic Learning), Pembelajaran Bermakna (Anchored Instruction)”.

2.2. Ciri-Ciri Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
      Menurut Nurhadi (2003, 56) pembelajaran berbasis masalah bercirikan sebagai berikut:
a. Pengajuan Masalah atau Pertanyaan.
Pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan masalah sosial yang penting bagi siswa dan masyarakat. Pertanyaan atau masalah itu bersifat autentik (nyata) bagi siswa dan tidak mempunyai jawaban sederhana. Pertanyaan atau masalah itu menurut Arends (dalam Trianto, 2009) harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
·      Autentik, yaitu masalah harus berkaitan dengan pengalaman dunia nyata siswa daripada prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu.
·      Bermakna, yaitu masalah yang diberikan hendaknya bermakna bagi siswa dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa.
·      Luas, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, sehingga memungkinkan mencapai tujuan pembelajaran, artinya masalah tersebut sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia. Selain itu masalah yang dirancang berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
·      Bermanfaat, yaitu masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan memungkinkan siswa merasakan kebergunaan matematika, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
b. Berfokus Pada Keterkaitan Antar Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu. Masalah yang diajukan hendaknya benar-benar autentik agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah tersebut dari banyak segi atau mengkaitkannya dengan disiplin ilmu yang lain.


c. Penyelidikan yang Autentik
Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Siswa harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika perlu), membuat referensi, dan merumuskan kesimpulan.
d. Menghasilkan Produk/Karya dan Memamerkannya
Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan. Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer. Hasil karya tersebut ditampilkan siswa di depan teman-temannya.
e. Kolaborasi
Pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan lainnya dalam kelompok kecil. Adapun keuntungan bekerja sama dalam kelompok kecil di antaranya siswa dapat saling memberikan motivasi untuk terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan  memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

2.3 Sintaks Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Menurut Nurhadi (2004, 111) pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa degan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Jika jangkauan masalahnya tidak terlalu kompleks, maka kelima tahapan tersebut mungkin dapat diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga kali pertemuan. Namun untuk masalah-masalah yang kompleks mungkin akan membutuhkan setahun penuh untuk menyelesaikannya. Kelima tahapan tersebut disajikan pada tabel berikut.





Tabel 2.1 Sintaks Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah
Fase Ke-
Indikator
Aktifitas / Kegiatan Guru
1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, pengajuan masalah, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapat penjelasan pemecahan masalah.
4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan kelompoknya.
5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.






2.3  Tujuan Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
      Pembelajaran Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Menurut Arends (2008:70) bahwa :
Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah, belajar peranan orang dewasa secara autentik, memungkinkan siswa untuk mendapatkan rasa percaya diri atas kemampuan yang dimilikinya sendiri, untuk berfikir dan menjadi pelajar yang mandiri”.

Jadi dalam pembelajaran berdasarkan masalah tugas guru adalah merumuskan tugas-tugas kepada siswa bukan untuk menyajikan tugas-tugas pelajaran.

2.5.Lingkungan Belajar dan Sistem Manajemen Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
        Lingkungan belajar Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah lebih  menekankan pada peranan sentral siswa bukan guru. Dalam hal ini guru memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengemukakan pendapatnya dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Arends (2008:70) bahwa: ”Lingkungan belajar Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah ditandai oleh keterbukaan, keterlibatan aktif siswa dan atmosfer kebebasan berintelektual”. Dalam kenyataan, keseluruhan proses membantu siswa untuk menjadi mandiri, siswa yang otonom yang percaya pada keterampilan intelektual mereka sendiri memerlukan keterlibatan.
Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru dalam mengelola pembelajaran berdasarkan masalah adalah bagaimana menangani siswa baik individual maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal maupun yang terlambat. Dalam hal ini Trianto (2007 :75) mengatakan bahwa : ” Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah  ini siswa dimungkinkan untuk mengerjakan tugas multi (rangkap), dan waktu penyelesaian tugas-tugas tersebut berbeda-beda”. Hal tersebut mengakibatkan diperlukannya pengelolaaan dan pemantauan kerja siswa yang rumit.



2.6. Penilaian dan Evaluasi Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
            Hal yang sangat penting diperhatikan oleh guru dalam melakukan penilaian terhadap pembelajaran yang telah dilakukannya di dalam kelas yaitu menyesuaikan prosedur-prosedur penilaian dengan tujuan pengajaran yang ingin dicapai oleh guru.
Seperti halnya dalam model pembelajaran kooperatif, dalam model pembelajaran berdasarkan masalah fokus perhatian pembelajaran tidak hanya pada perolehan pengetahuan, oleh karena itu tugas penilaian tidak cukup bila penilaiannya hanya dengan tes tertulis. Menurut Trianto (2007 : 76) bahwa: ”Teknik penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan Pendekatan pembelajaran berdasarkan masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh siswa yang merupakan hasil penyelidikan mereka ”.

2.7. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah
Kelebihan Pembelajaran Berbasis Masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut.
1.  Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif dan mandiri.
2.   Meningkatkan motivasi dan kemampuan memecahkan masalah
3.   Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru
4.   Dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah akan terjadi pembelajaran       bermakna.
5.   Dalam situasi pendekatan pembelajaran berbasis masalah     siswa     mengintegrasikan      pengetahuan dan      ketrampilan secara simultan dan      mengaplikasikannya dalam konteks       yang    relevan.
6. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan      berpikir kritis,    menumbuhkan inisiatif    siswa/mahasiswa dalam bekerja,    motivasi internal untuk belajar,     dan dapat    mengembangkan hubungan    interpersonal dalam bekerja kelompok.

Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut.
1.   Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini.
2.   Kurangnya waktu pembelajaran.
3. Siswa tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi mereka      untuk belajar.
4. Seorang guru sulit menjadi fasilitator yang baik.
2.8.Penerapan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah dalam    Pembelajaran      Matematika
            Adapun contoh penerapan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran matematika dalam hal ini materinya  bilangan bulat adalah sebagai berikut :
1. Orientasi siswa pada masalah
   - Guru mengajukan masalah dan meminta siswa untuk mempelajari masala  berikut :
      Sebuah kantor yang berlantai 23. Seorang Karyawan mula-mula berada di    lantai 2 kantor itu. Karena ada suatu  keperluan ia turun 4 lantai, kemudian  naik 6 lantai. Di lantai berapakah  karyawan itu sekarang berada?
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
    - Membagi siswa ke dalam kelompok dimana satu kelompok terdiri dari 5 orang siswa         yang memiliki kemampuan heterogen.
    -  Meminta siswa mengemukakan ide kelompoknya sendiri tentang  menyelesaikan         masalah tersebut.
       Misalnya kelompok A menggambarkan  sebuah gedung berlantai 23 dengan 3   lantai berada dibawah tanah dan menggambar seorang karyawan yang berada  pada lantai 2.
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
    - Membimbing siswa  menemukan penjelasan dan pemecahan masalah yang diberikan        oleh guru.
       Misalnya guru memberikan informasi kepada siswa bahwa naik satu lantai dinyatakan        dengan (+ 1) dan turun satu  lantai dinyatakan  dengan (-1).
       Dengan bimbingan guru, siswa menentukan letak karyawan itu di gedung  dengan cara :        Karyawan mula-mula berada di lantai 2 kantor itu dinyatakan  dengan (+2), kemudian        turun 4 lantai dinyatakan (-4), kemudian naik 6 lantai dinyatakan dengan (+6). Secara        matematis diulis : (2) +  (-4) + 6 = 4
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
   - Mendorong siswa untuk menyajikan hasil pemecahan masalah tersebut dengan cara        menunjuk satu kelompok secara acak untuk menuliskan hasil diskusi  kelompok di papan        tulis dan kelompok lain menanggapi hasil penyajian  kelompok yang  maju.

5. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
   - Membantu siswa mengkaji ulang proses atau hasil pemecahan masalah yang       telah dipersentasikan di depan kelas. Kemudian bersama dengan siswa  menarik  kesimpulan       letak karyawan itu berada pada lantai 4 gedung.

Dengan penerapan pada pembelajaran matematika model pembelajaran problem based instruction diharapkan peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan mereka secara mandiri. Sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh siswa lebih bermakna. Dengan demikian dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan matematis siswa.
































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar